Breaking News:

latest

Ads Place

Eks Ibu Negara Sri Lanka Sriranthi Rajapaksa Ditangkap atas Dugaan Korupsi Dana Amal Rumah Sakit Anak

Foto/Ilustrasi: harianSIB.com Bataktive.com - Dinamika politik Sri Lanka kembali menjadi sorotan internasional setelah penanganan kasus ko...

Eks Ibu Negara Sri Lanka Sriranthi Rajapaksa Ditangkap atas Dugaan Korupsi Dana Amal Rumah Sakit AnakFoto/Ilustrasi: harianSIB.com

Bataktive.com - Dinamika politik Sri Lanka kembali menjadi sorotan internasional setelah penanganan kasus korupsi mencapai puncaknya dengan penangkapan Sriranthi Rajapaksa, mantan Ibu Negara yang juga istri dari mantan Presiden Mahinda Rajapaksa. Penangkapan ini dilakukan pada Rabu (7/10/2026) waktu setempat di ibu kota Kolombo oleh Komisi Penyelidikan Dugaan Penyuapan atau Korupsi (CIABOC). Langkah tegas ini menandai babak baru dalam upaya pemberantasan korupsi di negara tersebut, khususnya yang melibatkan lingkaran kekuasaan keluarga Rajapaksa yang pernah mendominasi kancah politik Sri Lanka selama hampir dua dekade. Penangkapan Sriranthi merupakan kelanjutan dari proses hukum yang sempat tertunda, namun kini dihidupkan kembali di bawah kendali pemerintahan Presiden Anura Kumara Dissanayake yang menjanjikan transparansi dan akuntabilitas.

Skandal Penyalahgunaan Dana Yayasan Siriliya Saviya

Inti dari kasus yang menjerat Sriranthi berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan dana sumbangan yang dikumpulkan melalui yayasan amalnya, yaitu Siriliya Saviya. Menurut otoritas antikorupsi, yayasan tersebut dituduh telah menyalurkan atau menggunakan dana secara tidak sah yang semestinya diperuntukkan bagi operasional dan pengembangan sebuah rumah sakit anak. Sumbangan publik yang diharapkan dapat meningkatkan fasilitas layanan kesehatan bagi anak-anak di Sri Lanka justru diduga terkendap dalam praktik korupsi yang merugikan negara dan masyarakat. Kepala CIABOC menjelaskan bahwa penyelidikan ini telah berjalan lama, namun baru kini membuahkan hasil konkret berupa tindakan hukum terhadap salah satu narasumber utamanya. Penegakan hukum ini bukan hanya sekadar soal administrasi keuangan, tetapi juga menyentuh isu kepercayaan publik terhadap lembaga sipil dan politik yang seharusnya menjadi panutn dalam pengelolaan dana sosial.

"Penangkapan ini terkait dengan Yayasan Siriliya Saviya miliknya," - Pejabat CIABOC, di kediaman keluarga Rajapaksa, Kolombo

Proses penangkapan Sriranthi ini juga melibatkan dinamika prosedural hukum yang rumit. Sebelumnya, pada Senin (5/10/2026), Sriranthi telah mengajukan permohonan ke pengadilan untuk mencegah dirinya ditangkap. Namun, permohonan penangguhan penahanan tersebut belum diputus karena sidang pembahasannya baru dijadwalkan pada 12 Oktober 2026. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi hukum yang dijalankan tim pengacaranya serta kesiapan Sriranthi untuk menghadapi persidangan yang akan datang. Meskipun ada upaya penangguhan, otoritas hukum tetap melanjutkan proses penahanan preventif untuk memastikan bahwa subjel tidak melarikan diri atau mengancam integritas penyelidikan. Situasi ini memanas karena Sriranthi dikenal sebagai tokoh politik yang berpengaruh, sehingga penangkapannya memicu berbagai reaksi dari pendukung maupun penentangnya.

Kembalinya Kejayaan Keluarga Rajapaksa dan Tantangan Integritas

Keluarga Rajapaksa pernah menjadi kekuatan dominan dalam panggung politik Sri Lanka, dengan Mahinda Rajapaksa menjabat sebagai presiden pada dua periode sebelumnya. Selama era dominasi tersebut, banyak kritik yang dilontarkan mengenai praktik nepotisme dan penyalahgunaan wewenang yang menguntungkan anggota keluarga. Penangkapan Sriranthi kali ini merupakan simbol dari perubahan arah politik Sri Lanka menuju era penegakan hukum yang lebih ketat. Pemerintahan Presiden Dissanayake tampaknya tidak lagi memberikan ruang bagi impunitas bagi elit politik yang tersandung kasus korupsi. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor dan mitra internasional yang sebelumnya ragu-ragu terkait stabilitas tata kelola di Sri Lanka. Dengan menghidupkan kembali kasus-kasus yang sempat terbengkalai, pemerintah baru menunjukkan komitmen serius untuk membersihkan birokrasi dan mengawal penggunaan dana publik serta dana amal secara transparan.

Dampak dari penangkapan ini diperkirakan akan menciptakan gelombang kejutan di lembaga-lembaga amal lainnya di Sri Lanka, yang kini diwajibkan untuk lebih ketat dalam mempertanggungjawabkan penggunaan dana. Masyarakat sipil menyambut baik pengembangan kasus ini sebagai langkah reformasi, namun juga mengkritisi mengapa kasus serupa baru ditangani bertahun-tahun setelah peristiwa terjadi. Kasus Sriranthi Rajapaksa ini menjadi ujian nyata bagi sistem peradilan Sri Lanka dalam membuktikan bahwa tidak ada yang kebal hukum, terlepas dari背景 politik atau status sosial mereka. Pengadilan nanti akan menjadi arena bagi pengungkapan bukti-bukti keuangan yang lebih detail mengenai aliran dana dari Yayasan Siriliya Saviya, yang akan menentukan apakah dakwaan korupsi ini solid dan bermuatan kuat. Publik kini menunggu dengan penuh perhatian jaksa dan hakim, berharap penegakan hukum ini menjadi preseden positif bagi integritas keuangan di sektor sosial kemanusiaan di Sri Lanka.

(Bataktive.com)

ليست هناك تعليقات

Harap memberikan komentar yang mendukung kemajuan blog ini.
Terimakasih!!!

Iklan