Breaking News:

latest

Ads Place

Naniura, Sashimi ala Batak

  Naniura, kuliner khas Batak. Foto: Istimewa Orang-orang merubung ke lapo (warung) "Subur" di tepi Pelabuhan Ajibata, Parapat, Su...

 

Naniura, kuliner khas Batak. Foto: Istimewa

Orang-orang merubung ke lapo (warung) "Subur" di tepi Pelabuhan Ajibata, Parapat, Sumut, tempo hari. Mereka menyantap lezatnya ikan Naniura. Pemilik lapo, P Siallagan dan istrinya G Boru Manik sibuk meladeni pesanan pembeli. Lapo sesak oleh pengunjung yang mampir sejenak sebelum melanjutkan perjalanan naik kapal mengelilingi Danau Toba

Tatkala menikmati naniura, terkenang lagu "Tabo do dekke naniura". Seluruh liriknya menceritakan kelezatan ikan naniura, daging ikan segar yang walau tidak dimasak, tapi rasanya nikmat. Naniura, sebuah kuliner khas yang diresep oleh orang-orang pesisir Danau Toba. Saking lezatnya Naniura, cita rasanya mengilhami seorang pujangga untuk menciptakan lagu bertajuk permohonan kepada orangtuanya agar direstui berjodoh dengan perempuan yang berasal dari tepi Danau Toba, supaya ia selalu bisa mencecap nikmatnya Naniura.


Naniura adalah salah satu kuliner khas Batak. Makanan satu ini seperti Sashimi, ikan mentah khas Jepang. Orang yang pernah menyantap naniura pasti tau betapa sedapnya kuliner satu ini. Ikan mentah segar merupakan salah satu komponen tradisional dari naniura. Daging ikan segar itu dilumuri bumbu dan unte jungga (asam Batak) ditambah Andaliman, jeruk, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kacang tanah, kunyit, bunga rias (batang kecombrang) yang lebih dulu dilumat halus. Cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar harus disaok atau digongseng. Digongsengnya di atas api kecil. Masing-masing bahan disaok secara terpisah agar kualitasnya bagus. Pastikan bahan-bahan yang digongseng mengeluarkan aroma sedap, terlihat kuning kecokelatan. Khusus untuk bawang, indikator lainnya selain aroma sedap adalah lunak dan warna bawang merah sedikit tampak menerawang. Jika seluruh bahan telah selesai digongseng, selanjutnya adalah ditumbuk.


Memang, naniura, tidaklah sepopuler arsik. Lantaran naniura tidak selalu ada dijual di jarang lapo-lapo (warung nasi) Batak atau di arisan-arisan marga. Naniura biasanya disajikan pada saat acara Bona Taon para marga-marga Batak atau acara khusus keluarga. Pada awalnya, bahan dasar Naniura adalah ikan endemik Danau Toba yang dinamakan Ihan. Namun, karena Ihan Batak semakin sulit ditemukan, sehingga orang menggantikannya dengan ikan jenis lain, sepasti ikan mas, mujahir atau gabus.


Konon, di zaman Raja-Raja Batak di Tapanuli, naniura dijadikan sebagai makanan istimewa yang dihidangkan khusus untuk menjamu para raja. Bahkan, hanya koki atau juru masak kerajaan yang boleh membuat ikan naniura. Sehingga kuliner ini begitu terasa elit. Namun tidak diketahui, tentu butuh riset mendalam, sejak kapan naniura mulia bisa dicicipi bahkan dibuat sendiri oleh rakyat biasa. Dibandingkan kuliner lainnya, resep naniura mengandalkan bahan-bahan alam. Dan semua resep itu terjadi di sekitar kita. Kacang tanah, kecombrang, unte jungga, cabai, kunyit dan andaliman adalah tanaman-tanaman yang mudah ditemukan di daerah Tapanuli. Tumbuhan-tumbuhan rempah-rempah ini kaya manfaat dan khasiat untuk kesehatan tubuh.


Ke depan, ketika industri pariwisata di Danau Toba kian menggeliat, didukung gebrakan pemerintah pusat dan daerah yang terus mendongkrak citra pariwisata Toba, maka promosi kuliner khas Batak layak untuk mendapat perhatian serius. Naniura, sebagai satu produk kuliner lokal Sumut patut dijadikan senjata pamungkas untuk menarik minat wisatawan baik mancanegara maupun domestik. (K-DH)


Sumber : indonesia.go.id

No comments

Harap memberikan komentar yang mendukung kemajuan blog ini.
Terimakasih!!!

Iklan